
Berbicara mengenai pariwisata Indonesia di era millenials seperti sekarang, banyak topik yang bisa diangkat. Salah satunya, destinasi wisata kebudayaan. Sebagian besar millenials bila diberikan pilihan destinasi traveling cenderung lebih memilih mengunjungi wisata alam dibandingkan wisata kebudayaan. Para millenials menganggap destinasi wisata kebudayaan cukup monoton untuk dikunjungi dan kurang menimbulkan hasrat berpetualang. Sebut saja salah satunya, Candi Borobudur.
Candi Borobudur merupakan candi Budha terbesar di dunia yang dibangun pada abad ke 9 dari dinasti Syailendra. Candi Borobudur memiliki sejuta keunikan dan pesona yang menjadi daya tarik khusus untuk dikunjungi. Apalagi Candi Borobudur sudah disahkan milik negara Indonesia dan dimasukkan oleh UNESCO dalam daftar World Heritage List sebagai Warisan Budaya Dunia.

Candi Borubudur menjadi salah satu tempat ibadah berpengaruh bagi umat Buddha di dunia. Karena setiap tahunnya Candi Borobudur menjadi pusat perayaan hari Waisak di mana banyak umat Buddha dari segala penjuru datang. Hari Raya Waisak dirayakan pada saat bulan purnama di bulan Mei atau ketika Purnama Sidhi. Ribuan lampion akan diterbangkan menghiasi langit malam, menambah khidmat dan magisnya perayaan Waisak.
Saat ini pemerintah sedang melakukan giat wisata dengan menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu dari empat destinasi wisata super prioritas. Kedepannya, destinasi wisata Candi Borobudur diperkirakan akan membantu menaikkan pendapatan devisa negara. Metode storytelling merupakan salah satu cara yang digunakan pemerintah untuk mempromosikan Candi Borobudur. Tidak hanya storytelling, pemerintah juga melakukan pembentukan KEK (kawasan ekonomi khusus). Ditambah lagi Candi Borobudur juga sering digunakan sebagai venue perhelatan bertaraf internasional sehingga banyak mengundang wisatawan mancanegara untuk datang. Berbagai cara yang dilakukan oleh pemerintah diharapan dapat bersinergi dengan baik sehingga menambah kepopuleran situs Candi Borobudur, khususnya bagi para millenials.
Keuntungan yang bisa didapatkan oleh generasi millenials ketika mengunjungi Candi Borobudur bukan hanya meningkatkan pengetahuan akan sejarah dan budaya. Selain bisa belajar mengenai seni dan sastra, hampir setiap sudut kompleks Candi Borobudur merupakan spot foto yang instagramable, sehingga kegiatan berkeliling Candi Borobudur terasa lebih menyenangkan dan tidak monoton lagi.
Bagi millenials ataupun wisatawan yang menginginkan aktivitas anti mainstram, menikmati keindahan situs Candi Borobudur juga bisa dilakukan dari udara. Terbang dengan pesawat trike Air Creation di ketinggian lebih dari 500 mdpl tentunya akan memberikan sensasi dan sudut pandang berbeda. Ya, tidak hanya Candi Borobudur, namun juga lanskap kota.

Jadi, generasi millenials mari lestarikan warisan budaya dunia dengan mengunjungi dan mempelajari sejarah yang terkandung di dalamnya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sejarah dan kebudayaannya.





